Metropolitan vol.3

Lima belas juta mulut penduduk jabodetabek. Ini mengenai pembuktian–realisasi, serta landasan berpikir.

Kalau saya mengritik kenek metromini justru saya yang perlu dibenarkan karena memang toh itu sudah tugasnya. Pemain sinetron itu jelas perlu dibungkam, tapi kalau mereka membisu nanti jadi pantomim. Debat Capres memang hebat dan bermanfaat: namun perlu diingat bahwa bakat diplomasi bisa dipupuk, contohnya saja sales barang elektronik di mall-mall. Jadi saya kira cukup sudah sekali saya tonton, dua kali berbahaya saya bisa terjebak rayuan gombal.

Bakat orang Indonesia dalam berbicara memang extraordinary. Kalau tidak percaya lihat saja peringkat pemakai wordpress, facebook, friendster, plurk dan sebagainya.  Saya sudah kira kalau harkat seseorang bisa disebabkan oleh ilmunya, hartanya, pangkat dan sederet lainnya. Tapi kalau mulut juga bisa, saya baru tahu sekarang. Karena kalau sekedar memiliki, tidak cukup. Diperlukan untuk orang-orang mengetahuinya, sehingga terjadilah strata sosial itu sendiri.

Tapi biar bagaimanapun, subjektivitas saya sendiri masih menganggap yang demikian itu mencerminkan “derajat ke-katro-an”. Dilihat dari substansinya sendiri. Kenapa yang keluar yang sifatnya materialis semua? Kalaupun keilmuan sepertinya mengesankan keinginan menunjukkan kepintaran diri. Termasuk saya juga mungkin.

“Dewasa ini, diam dipandang aneh. Keindahan penuh makna dengan sedikit bicara telah dilupakan. Telah banyak lidah yang bekerja sendiri tanpa dibantu pikiran.” Toni Morrison – peraih nobel sastra


About this entry