Metropolitan vol.2

Hilangnya warisan DNA keilmuan dan moral, saya kira ada hubungannya dengan tren urban lifestyle (karena kalau saya sebut demikian maka akan menyinggung gaya hidup orang berpikiran maju di dunia barat sana, maka lebih tepat disebut “gaya hidup orang jakarta”)

Pulang di saat matahari sudah tenggelam, sampai di rumah dalam keadaan teracuni fisik oleh asap kendaraan dan batin oleh tekanan di kantor membuat waktu tatap muka dengan anak jadi terbatas. Makanya hubungan keluarga menjadi tidak lebih dari hubungan sponsorship serta hubungan boleh atau nggak. Siapa lagi yang menjadi suri tauladan di rumah bagi anak yang masih polos itu, kalau tidak asisten rumah tangga. Yang diturunkan bukannya kepahlawanan Bung Karno, pentingnya menabung, membuang sampah pada tempatnya tetapi kisah kaya dan miskin, cantik dan jelek dan intisari degradasi moral lainnya yang bisa kita jumpai di sinetron, dan satu lagi, keniscayaan hubungan antara majikan dan bawahan.

Dari situlah mungkin timbul sudut pandang materialis, bahwa “memiliki” lebih baik daripada “menjadi”, bahwa orang akan lebih terpandang bila terlihat dengan handphone model terbaru daripada prestasi yang baik di sekolah.  Tapi ternyata bukan sebatas itu sistem di alam ini bekerja. Peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” benar adanya. Namun apa daya yang bisa diturunkan adalah perihal keblingsatan dalam karier, korupsi kolusi dan nepotisme. Mau jadi apa anak koruptor itu, ya kalau tidak jauh-jauh dari profesi bapak ibunya.

“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain” – Pramoedya.


About this entry